Model Pembelajaran Blended Learning
Ada banyak model blended
learning yang telah dikembangkan. Berikut beberapa model blended
learning yang sudah diterapkan oleh berbagai lembaga pendidikan di
berbagai belahan dunia:
1. Station
Rotation Blended Learning
Station-Rotation
blended learning merupakan model yang memungkinkan siswa untuk
mencapai tujuan pembelajaran dengan cara memutari stasiun-stasiun pembelajaran
melalui jadwal tertentu, di mana setidaknya salah satu stasiun adalah stasiun
pembelajaran online. Model ini paling umum digunakan di sekolah dasar karena
guru sudah terbiasa berputar di “pusat” atau “stasiun”.
2. Lab
Rotation Blended Learning
Model Lab Rotation
Blended Learning mirip dengan Station Rotation, siswa
mempunyai kesempatan siswa untuk memutar stasiun melalui jadwal yang telah
ditetapkan namun dilakukan menggunakan laboratorium komputer khusus yang
memungkinkan dilakukan pengaturan jadwal yang fleksibel dengan guru. Dengan
demikian diperlukan laboratorium komputer.
3. Remote
Blended Learning atau Enriched Virtual
Dalam pembelajaran Remote
Blended Learning, fokus siswa adalah menyelesaikan pembelajaran online,
mereka melakukan pembelajaran tatap muka dengan guru hanya sesekali sesuai
kebutuhan.
Pendekatan ini berbeda dari
model Flipped Classroom dalam keseimbangan waktu pengajaran
tatap muka online. Dalam model pembelajaran Remote Blended Learning,
siswa tidak akan belajar secara tatap muka dengan guru setiap hari, tetapi
dalam pengaturan flipped. Siswa menyelesaikan tujuan pembelajaran
secara individu.
4. Flex
Blended Learning
Flex termasuk dalam jenis model Blended Learning di
mana pembelajaran online adalah inti atau tulang punggung pembelajaran siswa,
namun masih didukung oleh aktivitas pembelajaran offline. Siswa melanjutkan
pembelajaran yang dimulai di dalam kelas nyata dengan jadwal yang fleksibel
yang disesuaikan secara individual dalam berbagai modalitas pembelajaran.
Sebagian besar siswa masih
belajar di di sekolah, kecuali untuk pekerjaan rumah. Guru memberikan dukungan
pembelajaran tatap muka secara fleksibel dan adaptif sesuai kebutuhan melalui
kegiatan seperti pengajaran kelompok kecil, proyek kelompok, dan bimbingan
pribadi.
5. The
‘Flipped Classroom’ Blended Learning
Blended learning
versi Flipped Classroom ini merupakan versi yang paling banyak
dikenal, Flipped Classroom dimulai dari pembelajaran siswa
yang dilakukan secara online di luar kelas atau di rumah dengan konten-konten
yang sudah disediakan sebelumnya. Setelah melakukan proses pembelajaran online
di luar sekolah siswa kemudian memperdalam dan berlatih memecahkan soal-soal di
sekolah bersama guru dan / atau teman sebaya. Dengan demikian bisa dianggap
peran pembelajaran tradisional di kelas menjadi “terbalik”.
Pada dasarnya pembelajaran
ini masih mempertahankan format pembelajaran tardisional namun dijalankan
dengan konteks yang baru.
6. Individual
Rotation Blended Learning
Model Individual
Rotation memungkinkan siswa untuk memutar melalui stasiun-stasiun,
tetapi sesuai jadwal individu yang ditetapkan oleh guru atau oleh algoritma
perangkat lunak. Tidak seperti model rotasi lainnya, siswa tidak perlu berputar
ke setiap stasiun; mereka hanya berputar ke aktivitas yang dijadwalkan pada
daftar putar mereka.
Model-Model Lain
Selain
keenam model tersebut masih ada model lain, walaupun belum umum untuk digunakan
tidak ada salahnya untuk kita bahas di sini. Model-model blended
learning kemungkinan masih akan terus berkembang dan memiliki banyak
varian. Setidaknya ada beberapa model yang sudah mulai banyak digunakan di
beberapa lembaga pendidikan, diantaranya adalah :
– Project-Based
Blended Learning
Project-Based
Blended Learning merupakan model pembelajaran di mana siswa menggunakan
pembelajaran online maupun pengajaran tatap muka dan kolaborasi untuk
merancang, mengulang, dan menyelasiakn tugas pembelajaran berbasis proyek atau
produktertentu. Pembelajaran online bisa berbentuk pembelajaran online dengan
bentuk atau materi yang sudah disiapkan atau akses mandiri pada sumber-sumber
belajar yang dibutuhkan. Karakteristik utama dalam pembelajaran ini ada
penggunaan sumberdaya online untuk mendukung pembelajaran berbasis proyek.
– Self-Directed
Blended Learning
Dalam Self-Directed
Blended Learning, siswa menjalankan kombinasi pembelajaran online dan tatap
muka dalam pembelajaran inkuiri dan pencapaian tujuan pembelajaran formal.
Mereka terhubung dengan guru secara fisik dan digital. Karena pembelajaran
diarahkan sendiri, maka peran pembelajaran online dan guru berubah, dan tidak
ada pertemuan/pembelajaran online formal yang harus diselesaikan.
Salah
satu hal yang menjadi tantangan guru dalam pembelajaran ini adalah bagaimana ia
menilai pembelajaran dan keberhasilan pengalaman belajar siswa tanpa
menghilangkan autentifikasi. Sedangkan tantangan bagi siswa adalah magaimana
mencari model produk, proses, dan potensi yang dapat mendorong mereka untuk
konsisen dalam belajar. Selain itu siswa harus memahami apa yang berhasil dan
mengapa, dan untuk membuat penyesuaian yang sesuai atas kondisi yang tidak
sesuai dengan harapan atau kondisi ideal. Beberapa siswa tidak membutuhkan
bimbingan, sementara yang lain membutuhkan dukungan melalui jalur yang sangat
jelas sehingga mereka dapat menjalankan pembelajaran mereka mereka sendiri
secara otonom.
– Blended
Learning Inside-Out
Dalam blended
learning Inside-Out, pembelajaran dirancang akan selesai atau berakhir di
luar kelas, dengan memadukan kelebihan-kelebihan tatap muka fisik dan digital.
Namun dalam model Luar-Dalam dan Dalam-Luar,
masih menonjolkan pembelajaran dikelas, sedangkan pembelajaran online berfungsi
sebagai penguat. Komponen pembelajaran online dapat berupa inkuiri mandiri atau
eLearning formal.
Bila
dilihat dari pola pembelajarannya maka blended learning berbasis
proyek merupakan salah satu contoh yang sangat baik dari model Inside-Out. Sama
halnya dengan Outside-In, model ini masih membutuhan untuk bimbingan ahli,
umpan balik pembelajaran, pengajaran konten, dan dukungan psikologis dan moral
dari interaksi tatap muka setiap hari.
– Outside-In
Blended Learning
Dalam
pembelajaran Outside-In Blended Learning, pembelajaran diawali
dari lingkungan fisik dan digital non-akademik yang biasa digunakan siswa
setiap hari yang kemudian diakhiri di dalam ruang kelas. Dengan demikian
pembelajaran di dalam kelas akan lebih dalam dan kaya. Kelas tatap muka
berpeluang menjadi ajang berbagi, berkreasi, berkolaborasi, dan saling memberi
umpan balik yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran siswa.
Bila
dirancang dengan baik, masing-masing “area” pembelajaran dapat memainkan peran
penting dari kekuatannya masing-masing yang saling melengkapi. Polanya
pembelajaran ini tetap masih kebutuhan bimbingan, pengajaran, dan dukungan dari
interaksi tatap muka setiap hari.
– Supplemental
Blended Learning
Dalam
model ini, siswa menyelesaikan pembelajaran online sepenuhnya untuk melengkapi
pembelajaran tatap muka mereka, atau pembelajaran tatap muka sepenuhnya untuk
melengkapi pembelajaran yang diperoleh secara online.
Gagasan
besar di sini adalah “pelengkap”. Pencapaian tujuan pembelajaran pada intinya
dipenuhi sepenuhnya dalam satu “ruang” (tatap muka atau online) sementara
“ruang” lainnya memberikan pengalaman tambahan yang spesifik bagi siswa.
Pengalaman tambahan ini tidak akan mereka dapatkan bila hanya menggunakan satu
“ruang” saja.
– Mastery-Based Blended Learning
Pada
model Mastery-Based Blended Learning siswa melakuakan
pembelajaran online dan pembelajaran tatap muka secara bergiliran. Penyelesaian
tujuan pembelajaran berbasis penguasaan. Desain dan proporsi pembelajaran
online dan tatap muka dibangun atas dasar penguasaan kompetensi tertentu.
Desain
asesmen sangat penting dalam setiap pengalaman pembelajaran berbasis
penguasaan. Kemampuan untuk menggunakan alat asesmen tatap muka dan digital
cukup rumit tergantung pada pola pikir perancang pembelajaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar