Model Discovery
Learning
Model pembelajaran penyingkapan/penemuan (Discovery/Inquiry Learning)
adalah memahami konsep, arti, dan hubungan melalui proses intuitif untuk
akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan.
Model discovery learning merupakan model
pembelajaran dalam bentuk pemahaman konsep, arti, dan hubungan, melalui proses
intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan.
Di dalam discovery
learning, peserta didik diminta mengorganisasi sendiri pembelajaran. Model
pembelajaran ini pertama kali dikemukakan oleh Bruner.
Ide dasar Bruner adalah
pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan aktif dalam
pembelajaran di kelas.
Discovery learning dilakukan dalam
bentuk kegiatan, seperti observasi, klasifikasi, pengukuran, dan prediksi.
Kegiatan tersebut dinamakan cognitive process.
Menurut Bruner,
perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan
lingkungan, yaitu : enactive, iconic, dan symbolic.
Pada tahap enaktive,
seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya untuk memahami lingkungan
sekitarnya.
Artinya, dalam memahami
dunia sekitarnya, anak menggunakan pengetahuan motorik, misalnya melalui
gigitan, sentuhan, pegangan, dan sebagainya.
Tahap iconic,
seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar dan
visualisasi verbal. Maksudnya, dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar
melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi).
Tahap symbolic,
seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat
dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika.
Di dalam memahami dunia
sekitarnya anak belajar melalui simbol-simbol bahasa, logika, matematika, dan
sebagainya.
Bentuk Discovery Learning
Terdapat dua cara yang dapat dilakukan untuk menerapkan discovery
learning, yaitu sebagai berikut.
1.
Pembelajaran Penemuan Bebas (Free
Discovery Learning)
Pembelajaran penemuan bebas
adalah pembelajaran penemuan tanpa adanya petunjuk atau arahan guru.
2.
Pembelajaran Penemuan Terbimbing (Guided
Discovery Learning)
Pembelajaran penemuan
terbimbing adalah pembelajaran penemuan yang membutuhkan peran guru sebagai
fasilitator.
Discovery learning dapat dilaksanakan
dalam komunikasi satu arah atau komunikasi dua arah. Sistem pendekatan satu
arah jika penyajiannya dalam bentuk merangsang peserta didik untuk
memecahkan masalah yang diajukan guru melalui langkah-langkah discovery.
Sistem pendekatan dua arah, jika melibatkan peserta didik dalam menjawab
pertanyaan-pertanyaan Guru, melakukan discovery, dan guru membimbing ke arah
jawaban atau penyelesaian masalah yang benar.
Ciri-ciri
Discovery Learning
1.Mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk
menciptakan, mengabungkan, dan menggeneralisasi pengetahuan.
2.
Berpusat pada peserta didik.
3.
Menggabungkan pengetahuan baru dan
pengetahuan yang sudah ada.
Tujuan
Discover Learning
1. Di dalam proses penemuan, peserta didik
memiliki kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran, sehingga
partisipasi banyak didik dalam pembelajaran meningkat.
2.
Pelalui pembelajaran dengan penemuan,
peserta didik belajar menemukan pola dalam situasi konkrit maupun abstrak.
3.
Peserta didik belajar merumuskan strategi
tanya jawab yang tidak rancu dan menggunakan tanya jawab untuk memperoleh
informasi yang bermanfaat dalam menemukan.
4.
Pembelajaran dengan penemuan akan
membantu peserta didik membentuk cara kerja bersama yang efektif, saling
membagi informasi, serta mendengar dan menggunakan ide-ide orang lain.
5.
Keterampilan yang dipelajari dalam situasi belajar penemuan dalam beberapa
kasus, lebih mudah ditransfer untuk aktifitas baru dan diaplikasilkan dalam
situasi belajar yang baru.
Perbedaan
Discovery Learning dengan Inquiry
Pada dasarnya tidak ada
perbedaan yang prinsipal antara model discovery learning dengan inquiry (inkuiri).
Keduanya sama-sama
menekankan pada penemuan konsep yang sebelumnya tidak diketahui oleh peserta didik.
Perbedaannya adalah pada Discovery Learning, masalah yang berikan
kepada peserta didik adalah masalah yang direkayasa oleh guru, sedangkan pada
inkuiri masalahnya bukan hasil rekayasa.
Dengan demikian, peserta didik harus mampu mengerahkan seluruh pikiran
dan keterampilannya untuk mendapatkan temuan-temuan di dalam masalah tersebut
melalui serangkaian proses penelitian.
Kelebihan
Discovery Learning
1.
Membantu peserta didik untuk memperbaiki dan meningkatkan
keterampilan-keterampilan serta proses berpikir kognitif.
2.
Pengetahuan yang diperoleh melalui model pembelajaran penemuan sangat ampuh,
karena menguatkan pengertian dan ingatan
3.
Menimbulkan rasa senang pada peserta didik, karena tumbuhnya rasa menyelidiki
dan berhasil.
4.
Memungkinkan peserta didik berkembang dengan cepat dan sesuai dengan
kecepatannya sendiri.
5.
Menyebabkan peserta didik mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan
melibatkan akal dan motivasi sendiri.
6.
Membantu peserta didik memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh kepercayaan
bekerja sama dengan yang lainnya.
7.
Berpusat pada peserta didik dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan
gagasan-gagasan.
8.
Membantu peserta didik menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) karena mengarah
pada kebenaran yang final dan pasti.
9.
Peserta didik akan mengerti konsep dasar dan ide-ide secara lebih baik.
10.
Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi proses belajar
yang baru.
11.
Mendorong peserta didik berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri.
12.
Mendorong peserta didik berpikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri.
13.
Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik.
14.
Meningkatkan tingkat penghargaan pada peserta didik.
15.
Kemungkinan peserta didik belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber
belajar.
16.
Mengembangkan bakat dan kecakapan individu.
Kelemahan
Model Discovery Learning.
1.
Menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan
pikiran untuk belajar.
2.
Bagi peserta didik yang kurang pandai, akan mengalami kesulitan abstrak atau
berpikir atau mengungkapkan hubungan antara konsep-konsep, yang tertulis atau
lisan.
3.
Tidak efisien untuk mengajar jumlah
peserta didik yang banyak, karena membutuhkan waktu lama untuk membantu mereka menemukan
teori atau pemecahan masalah lainnya.
3.
Harapan-harapan yang terkandung dalam
model ini dapat buyar berhadapan dengan peserta didik dan guru yang telah
terbiasa dengan cara-cara belajar yang lama.
4. Pembelajaran discovery lebih cocok untuk
mengembangkan pemahaman, sedangkan mengembangkan aspek konsep, keterampilan dan
emosi secara keseluruhan kurang mendapat perhatian.
5.
Pada beberapa disiplin ilmu, misalnya IPA
kurang fasilitas untuk mengukur gagasan yang dikemukakan oleh para peserta
didik
6.
Tidak menyediakan kesempatan-kesempatan
untuk berpikir yang akan ditemukan oleh peserta didik karena telah dipilih
terlebih dahulu oleh guru.
Sintak
Model Discovery Learning
1.
Stimulation (Stimulasi/Pemberian
Rangsangan)
Pada tahap ini peserta
didik dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan pertanyaan, kemudian dilanjutkan
untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki
sendiri.
Guru dapat memulai kegiatan
pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas
belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
2.
Problem Statement
(Pernyataan/Identifikasi Masalah)
Setelah dilakukan
stimulasi, langkah selanjutya adalah guru memberi kesempatan kepada peserta
didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang
relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan
dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah).
Permasalahan yang dipilih
selanjutnya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis, yakni
pernyataan sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan.
Guru memberikan kesempatan
peserta didik untuk mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan yang mereka
hadapi.
3.
Data Collection (Pengumpulan Data)
Ketika eksplorasi sedang
berlangsung, guru memberi kesempatan kepada para peserta didik untuk
mengumpulkan informasi yang relevan sebanyak-banyaknya untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis. Tahap ini berfungsi untuk menjawab
pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis.
Dengan demikian peserta
didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang
relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan narasumber,
melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.
Konsekuensi dari tahap ini
adalah peserta didik belajar secara aktif untuk menemukan sesuatu yang
berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi.
Secara tidak disengaja
peserta didik telah menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah
dimiliki.
4. Data Processing (Pengolahan Data)
Semua informasi hasil
bacaan, wawancara, dan observasi selanjutnya diolah, diacak, diklasifikasikan,
ditabulasi, serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu.
Data processing disebut
juga dengan pengkodean/kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep
dan generalisasi.
Berdasarkan generalisasi
tersebut, peserta didik akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif
jawaban atau penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis.
5.
Verification (Pembuktian)
Pada tahap ini, peserta
didik melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya
hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan
hasil data processing.
Pembuktian bertujuan agar
proses belajar berjalan dengan baik dan kreatif. Guru akan memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan
atau pemahaman melalui contoh-contoh yang dijumpai dalam kehidupannya.
6.
Generalization (Penarikan Simpulan)
Tahap generalisasi atau
tahap penarikan simpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat
dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama,
dengan memperhatikan hasil verifikasi.
Berdasarkan hasil
verifikasi, maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi.
Setelah menarik kesimpulan peserta didik harus memperhatikan proses
generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan materi atas makna dan kaidah
yang luas yang mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya proses
pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman tersebut.
Proses Discovery terjadi
bila individu terlibat terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk
menemukan beberapa konsep dan prinsip.
Discovery dilakukan melalui
observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan, dan inferensi. Proses
di atas disebut cognitive process.
Berdasarkan sintak tersebut, langkah-langkah pembelajaran discovery
learning yang bisa dirancang oleh guru adalah sebagai berikut :
LANGKAH
KERJA
|
AKTIVITAS
GURU
|
AKTIVITAS
PESERTA DIDIK
|
|
Pemberian rangsangan
(Stimulation)
|
·
Guru
memulai kegiatan pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca
buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
|
·
Peserta
didik dihadapkan pada sesuatu yang enimbulkan kebingungannya, kemudian
dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk
menyelidiki sendiri.
·
Stimulasi
pada fase ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang
dapat mengembangkan dan membantu peserta didik dalam mengeksplorasi bahan.
|
|
Pernyataan/ Identifikasi
masalah (Problem Statement)
|
·
Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi
sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran,
kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban
sementara atas pertanyaan masalah).
|
·
Permasalahan yang dipilih itu
selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis, yakni
pernyataan sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan.
|
|
Pengumpu-lan data (Data Collection)
|
·
Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan
kepada para peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang relevan sebanyak-banyaknya
untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis.
|
·
Tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau
membuktikan benar tidaknya hipotesis.
·
Dengan
demikian peserta didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai
informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan
nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.
|
|
Pengolahan data
(Data Processing)
|
·
Guru melakukan bimbingan pada saat peserta didik melakukan
pengolahan data.
|
·
Pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi
baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan.
·
Semua
informasi hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya
diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung
dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu.
|
Pembuktian
(Verification)
|
·
Verifikasi bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan
baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh
yang ia jumpai dalam kehidupannya.
|
·
Peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat untuk
membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan
temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil pengolahan data.
|
|
Menarik simpulan/ generalisasi
(Generalization)
|
·
Proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan
prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan
hasil verifikasi.
|
·
Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan
prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi.
|
Daftar
Pustaka
Ajiji, A. 2012. Pembelajaran
Berbasis Penemuan (Discovery Learning) : Kelebihan dan Kekurangan Metode
Discovery. (Online).
(http://essay-lecture.blogspot.com/2012/09/kelebihan-dan-kekurangan-metode.html,
diakses tanggal 24 April 2015).
Balım, A., G. 2009. The
Effects of Discovery Learning on Students’ Success and Inquiry Learning
Skills. Egitim Arastirmalari-Eurasian Journal of Educational Research, (35):
1-20.
Bicknell-Holmes, T. dan
Hoffman, P. S. 2000. Elicit, engage, experience, explore: Discovery learning in
library instruction. Reference Services Review, 28(4): 313-322.
Dewey, J. 1997. Democracy
and education. New York: Simon and Schuster. (Original work published 1916)
Piaget, J. (1954). Construction of reality in the child. New York:
Basic Books.
Faiq, M. 2014. Model
Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning). (Online). (http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2014/06/model-pembelajaran-discovery-learning-kurikulum-2013.html,
diakses tanggal 24 April 2015).
Gijlers, H., de Jong, T.
2005. The relation between prior knowledge and students’ collaborative
discovery learning processes. Journal of Research in Science Teaching, (42):
264-282.
Hammer, D. 1997. Discovery
learning and discovery teaching. Cognition and Instruction, 15(4):
485-529.
Ikra. 2014. Model Pembelajaran Penemuan (Discovery
Learning) dalam Implementasi Kurikulum 2013. (Online).
(http://ikrapuncak.blogspot.com/2014/09/pembelajaran-berbasis-penemuan.html,
diakses tanggal 24 April 2015).
Kemendikbud. 2014. Materi
Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013 Tahun Ajaran 2014/2015. Jakarta:
BPSDMP dan PMP.
Kipnis, N. 2007. Discovery
in science and in science education, Science & Education, (16):
883-920.
Lee, O., Hart, J. E.,
Cuevas, P. & Enders, C. 2004. Professional development in inquiry based
science for elementary teachers of diverse student groups. Journal
ofResearch in Science Teaching, 41(10): 1021-1043.
Piaget, J. 1973. To understand is to invent.
New York: Grossman.