Senin, 14 September 2020

Trigonometri

 TRIGONOMETRI

     Trigonometri menurut bahasa Yunani dapat diartikan trigonon sama dengan tiga sudut sedangkan metro sama dengan mengukur jadi trigonometri dapat diartikan sebagai cabang ilmu matematika yang mempelajari tentang sudut segitiga dan fungsi trigonometri (sinus, cosinus, tangen, cosecant, secan dan contangen). Berikut hubungan antara sinus, cosinus, tangen dengan cosecant, secan, dan cotangent yaitu :

·     Sinus (Sin) adalah perbandingan antara panjang sisi siku-siku dihadapan sudut tersebut dengan sisi miring (hipotenusa)

·      Cisinus (Cos) adalah perbandingan antara panjang sisi siku-siku yang mengapit sudut tersebut dengan sisi miring (hipotenusa).

·  Tangen (Tan) adalah perbandingan antara panjang sisi siku-siku dihadapan sudut tersebut dengan panjang sisi siku-siku dihadapan sudut tersebut. 

·  Cotangen (Cot) adalah perbandingan antara Panjang sisi siku-siku yang mengapit sudut tersebut dengan panjang sisi siku-siku dihadapan sudut tersebut

·    Sekan (Sec) adalah perbandingan antara sisi miring (hipotenusa) dengan Panjang sisi siku-siku yang mengapit sudut tersebut

·   Cosekan (Cosec) adalah perbandingan antara sisi miring (hipotenusa) dengan panjang sisi siku- siku dihadapan sudut tersebut.





==> TERIMA KASIH <==



Jumat, 04 September 2020

Model Pembelajaran Blended Learning

Model Pembelajaran Blended Learning


Ada banyak model blended learning yang telah dikembangkan. Berikut beberapa model blended learning yang sudah diterapkan oleh berbagai lembaga pendidikan di berbagai belahan dunia:

1. Station Rotation Blended Learning

Station-Rotation blended learning merupakan model yang memungkinkan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan cara memutari stasiun-stasiun pembelajaran melalui jadwal tertentu, di mana setidaknya salah satu stasiun adalah stasiun pembelajaran online. Model ini paling umum digunakan di sekolah dasar karena guru sudah terbiasa berputar di “pusat” atau “stasiun”.

2. Lab Rotation Blended Learning

Model Lab Rotation Blended Learning mirip dengan Station Rotation, siswa mempunyai kesempatan siswa untuk memutar stasiun melalui jadwal yang telah ditetapkan namun dilakukan menggunakan laboratorium komputer khusus yang memungkinkan dilakukan pengaturan jadwal yang fleksibel dengan guru. Dengan demikian diperlukan laboratorium komputer.

3. Remote Blended Learning atau Enriched Virtual

Dalam pembelajaran Remote Blended Learning, fokus siswa adalah menyelesaikan pembelajaran online, mereka melakukan pembelajaran tatap muka dengan guru hanya sesekali sesuai kebutuhan.

Pendekatan ini berbeda dari model Flipped Classroom dalam keseimbangan waktu pengajaran tatap muka online. Dalam model pembelajaran Remote Blended Learning, siswa tidak akan belajar secara tatap muka dengan guru setiap hari, tetapi dalam pengaturan flipped. Siswa menyelesaikan tujuan pembelajaran secara individu.

4. Flex Blended Learning

Flex termasuk dalam jenis model Blended Learning di mana pembelajaran online adalah inti atau tulang punggung pembelajaran siswa, namun masih didukung oleh aktivitas pembelajaran offline. Siswa melanjutkan pembelajaran yang dimulai di dalam kelas nyata dengan jadwal yang fleksibel yang disesuaikan secara individual dalam berbagai modalitas pembelajaran.

Sebagian besar siswa masih belajar di di sekolah, kecuali untuk pekerjaan rumah. Guru memberikan dukungan pembelajaran tatap muka secara fleksibel dan adaptif sesuai kebutuhan melalui kegiatan seperti pengajaran kelompok kecil, proyek kelompok, dan bimbingan pribadi.

 

 

 

5. The ‘Flipped Classroom’ Blended Learning

Blended learning versi Flipped Classroom ini merupakan versi yang paling banyak dikenal, Flipped Classroom dimulai dari pembelajaran siswa yang dilakukan secara online di luar kelas atau di rumah dengan konten-konten yang sudah disediakan sebelumnya. Setelah melakukan proses pembelajaran online di luar sekolah siswa kemudian memperdalam dan berlatih memecahkan soal-soal di sekolah bersama guru dan / atau teman sebaya. Dengan demikian bisa dianggap peran pembelajaran tradisional di kelas menjadi “terbalik”.

Pada dasarnya pembelajaran ini masih mempertahankan format pembelajaran tardisional namun dijalankan dengan konteks yang baru.

6. Individual Rotation Blended Learning

Model Individual Rotation memungkinkan siswa untuk memutar melalui stasiun-stasiun, tetapi sesuai jadwal individu yang ditetapkan oleh guru atau oleh algoritma perangkat lunak. Tidak seperti model rotasi lainnya, siswa tidak perlu berputar ke setiap stasiun; mereka hanya berputar ke aktivitas yang dijadwalkan pada daftar putar mereka.

 

 

Model-Model Lain

Selain keenam model tersebut masih ada model lain, walaupun belum umum untuk digunakan tidak ada salahnya untuk kita bahas di sini. Model-model blended learning kemungkinan masih akan terus berkembang dan memiliki banyak varian. Setidaknya ada beberapa model yang sudah mulai banyak digunakan di beberapa lembaga pendidikan, diantaranya adalah :

– Project-Based Blended Learning

Project-Based Blended Learning merupakan model pembelajaran di mana siswa menggunakan pembelajaran online maupun pengajaran tatap muka dan kolaborasi untuk merancang, mengulang, dan menyelasiakn tugas pembelajaran berbasis proyek atau produktertentu. Pembelajaran online bisa berbentuk pembelajaran online dengan bentuk atau materi yang sudah disiapkan atau akses mandiri pada sumber-sumber belajar yang dibutuhkan. Karakteristik utama dalam pembelajaran ini ada penggunaan sumberdaya online untuk mendukung pembelajaran berbasis proyek.

 Self-Directed Blended Learning

Dalam Self-Directed Blended Learning, siswa menjalankan kombinasi pembelajaran online dan tatap muka dalam pembelajaran inkuiri dan pencapaian tujuan pembelajaran formal. Mereka terhubung dengan guru secara fisik dan digital. Karena pembelajaran diarahkan sendiri, maka peran pembelajaran online dan guru berubah, dan tidak ada pertemuan/pembelajaran online formal yang harus diselesaikan.

Salah satu hal yang menjadi tantangan guru dalam pembelajaran ini adalah bagaimana ia menilai pembelajaran dan keberhasilan pengalaman belajar siswa tanpa menghilangkan autentifikasi. Sedangkan tantangan bagi siswa adalah magaimana mencari model produk, proses, dan potensi yang dapat mendorong mereka untuk konsisen dalam belajar. Selain itu siswa harus memahami apa yang berhasil dan mengapa, dan untuk membuat penyesuaian yang sesuai atas kondisi yang tidak sesuai dengan harapan atau kondisi ideal. Beberapa siswa tidak membutuhkan bimbingan, sementara yang lain membutuhkan dukungan melalui jalur yang sangat jelas sehingga mereka dapat menjalankan pembelajaran mereka mereka sendiri secara otonom.

 Blended Learning Inside-Out

Dalam blended learning Inside-Out, pembelajaran dirancang akan selesai atau berakhir di luar kelas, dengan memadukan kelebihan-kelebihan tatap muka fisik dan digital. Namun dalam model Luar-Dalam dan Dalam-Luar, masih menonjolkan pembelajaran dikelas, sedangkan pembelajaran online berfungsi sebagai penguat. Komponen pembelajaran online dapat berupa inkuiri mandiri atau eLearning formal.

Bila dilihat dari pola pembelajarannya maka blended learning berbasis proyek merupakan salah satu contoh yang sangat baik dari model Inside-Out. Sama halnya dengan Outside-In, model ini masih membutuhan untuk bimbingan ahli, umpan balik pembelajaran, pengajaran konten, dan dukungan psikologis dan moral dari interaksi tatap muka setiap hari.

– Outside-In Blended Learning

Dalam pembelajaran Outside-In Blended Learning, pembelajaran diawali dari lingkungan fisik dan digital non-akademik yang biasa digunakan siswa setiap hari yang kemudian diakhiri di dalam ruang kelas. Dengan demikian pembelajaran di dalam kelas akan lebih dalam dan kaya. Kelas tatap muka berpeluang menjadi ajang berbagi, berkreasi, berkolaborasi, dan saling memberi umpan balik yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran siswa.

Bila dirancang dengan baik, masing-masing “area” pembelajaran dapat memainkan peran penting dari kekuatannya masing-masing yang saling melengkapi. Polanya pembelajaran ini tetap masih kebutuhan bimbingan, pengajaran, dan dukungan dari interaksi tatap muka setiap hari.

 Supplemental Blended Learning

Dalam model ini, siswa menyelesaikan pembelajaran online sepenuhnya untuk melengkapi pembelajaran tatap muka mereka, atau pembelajaran tatap muka sepenuhnya untuk melengkapi pembelajaran yang diperoleh secara online.

Gagasan besar di sini adalah “pelengkap”. Pencapaian tujuan pembelajaran pada intinya dipenuhi sepenuhnya dalam satu “ruang” (tatap muka atau online) sementara “ruang” lainnya memberikan pengalaman tambahan yang spesifik bagi siswa. Pengalaman tambahan ini tidak akan mereka dapatkan bila hanya menggunakan satu “ruang” saja.

–  Mastery-Based Blended Learning

Pada model Mastery-Based Blended Learning siswa melakuakan pembelajaran online dan pembelajaran tatap muka secara bergiliran. Penyelesaian tujuan pembelajaran berbasis penguasaan. Desain dan proporsi pembelajaran online dan tatap muka dibangun atas dasar penguasaan kompetensi tertentu.

Desain asesmen sangat penting dalam setiap pengalaman pembelajaran berbasis penguasaan. Kemampuan untuk menggunakan alat asesmen tatap muka dan digital cukup rumit tergantung pada pola pikir perancang pembelajaran.

 

Model Discovery Learning

Model Discovery Learning

 

Model pembelajaran penyingkapan/penemuan (Discovery/Inquiry Learning) adalah memahami konsep, arti, dan hubungan melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan.

Model discovery learning merupakan model pembelajaran dalam bentuk pemahaman konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan.

Di dalam discovery learning, peserta didik diminta mengorganisasi sendiri pembelajaran. Model pembelajaran ini pertama kali dikemukakan oleh Bruner.

Ide dasar Bruner adalah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan aktif dalam pembelajaran di kelas.

Discovery learning dilakukan dalam bentuk kegiatan, seperti observasi, klasifikasi, pengukuran, dan prediksi. Kegiatan tersebut dinamakan cognitive process.

Menurut Bruner, perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan lingkungan, yaitu : enactive, iconic, dan symbolic.

Pada tahap enaktive, seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya untuk memahami lingkungan sekitarnya.

Artinya, dalam memahami dunia sekitarnya, anak menggunakan pengetahuan motorik, misalnya melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dan sebagainya.

Tahap iconic, seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. Maksudnya, dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi).

Tahap symbolic, seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika.

Di dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui simbol-simbol bahasa, logika, matematika, dan sebagainya.

Bentuk Discovery Learning

Terdapat dua cara yang dapat dilakukan untuk menerapkan discovery learning, yaitu sebagai berikut.

1. Pembelajaran Penemuan Bebas (Free Discovery Learning)

Pembelajaran penemuan bebas adalah pembelajaran penemuan tanpa adanya petunjuk atau arahan guru.

 

 

2. Pembelajaran Penemuan Terbimbing (Guided Discovery Learning)

Pembelajaran penemuan terbimbing adalah pembelajaran penemuan yang membutuhkan peran guru sebagai fasilitator.

Discovery learning dapat dilaksanakan dalam komunikasi satu arah atau komunikasi dua arah. Sistem pendekatan satu arah jika penyajiannya dalam bentuk merangsang  peserta didik untuk memecahkan masalah yang diajukan guru melalui langkah-langkah discovery.

Sistem pendekatan dua arah, jika melibatkan peserta didik dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan Guru, melakukan discovery, dan guru membimbing ke arah jawaban atau penyelesaian masalah yang benar.

Ciri-ciri Discovery Learning

1.Mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, mengabungkan, dan menggeneralisasi pengetahuan.

2. Berpusat pada peserta didik.

3. Menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.

 

Tujuan Discover Learning

1.  Di dalam proses penemuan, peserta didik memiliki kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran, sehingga partisipasi banyak didik dalam pembelajaran meningkat.

2. Pelalui pembelajaran dengan penemuan, peserta didik belajar menemukan pola dalam situasi konkrit maupun abstrak.

3. Peserta didik belajar merumuskan strategi tanya jawab yang tidak rancu dan menggunakan tanya jawab untuk memperoleh informasi yang bermanfaat dalam menemukan.

4. Pembelajaran dengan penemuan akan membantu peserta didik membentuk cara kerja bersama yang efektif, saling membagi informasi, serta mendengar dan menggunakan ide-ide orang lain.

5. Keterampilan yang dipelajari dalam situasi belajar penemuan dalam beberapa kasus, lebih mudah ditransfer untuk aktifitas baru dan diaplikasilkan dalam situasi belajar yang baru.

 

 

Perbedaan Discovery Learning dengan Inquiry

Pada dasarnya tidak ada perbedaan yang prinsipal antara model discovery learning dengan inquiry (inkuiri).

Keduanya sama-sama menekankan pada penemuan konsep yang sebelumnya tidak diketahui oleh peserta didik.

Perbedaannya adalah pada Discovery Learning, masalah yang berikan kepada peserta didik adalah masalah yang direkayasa oleh guru, sedangkan pada inkuiri masalahnya bukan hasil rekayasa.

Dengan demikian, peserta didik harus mampu mengerahkan seluruh pikiran dan keterampilannya untuk mendapatkan temuan-temuan di dalam masalah tersebut melalui serangkaian proses penelitian.

Kelebihan Discovery Learning

1. Membantu peserta didik untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan serta proses berpikir kognitif.

2. Pengetahuan yang diperoleh melalui model pembelajaran penemuan sangat ampuh, karena menguatkan pengertian dan ingatan

3. Menimbulkan rasa senang pada peserta didik, karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil.

4. Memungkinkan peserta didik berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri.

5. Menyebabkan peserta didik mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akal dan motivasi sendiri.

6. Membantu peserta didik memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya.

7. Berpusat pada peserta didik dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasan-gagasan.

8. Membantu peserta didik menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) karena mengarah pada kebenaran yang final dan pasti.

9. Peserta didik akan mengerti konsep dasar dan ide-ide secara lebih baik.

10. Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi proses belajar yang baru.

11. Mendorong peserta didik berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri.

12. Mendorong peserta didik berpikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri.

13. Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik.

14. Meningkatkan tingkat penghargaan pada peserta didik.

15. Kemungkinan peserta didik belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar.

16. Mengembangkan bakat dan kecakapan individu.

Kelemahan Model Discovery Learning.

1. Menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar.

2. Bagi peserta didik yang kurang pandai, akan mengalami kesulitan abstrak atau berpikir atau mengungkapkan hubungan antara konsep-konsep, yang tertulis atau lisan.

3. Tidak efisien untuk mengajar jumlah peserta didik yang banyak, karena membutuhkan waktu lama untuk membantu mereka menemukan teori atau pemecahan masalah lainnya.

3. Harapan-harapan yang terkandung dalam model ini dapat buyar berhadapan dengan peserta didik dan guru yang telah terbiasa dengan cara-cara belajar yang lama.

4.  Pembelajaran discovery lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman, sedangkan mengembangkan aspek konsep, keterampilan dan emosi secara keseluruhan kurang mendapat perhatian.

5. Pada beberapa disiplin ilmu, misalnya IPA kurang fasilitas untuk mengukur gagasan yang dikemukakan oleh para peserta didik

6. Tidak menyediakan kesempatan-kesempatan untuk berpikir yang akan ditemukan oleh peserta didik karena telah dipilih terlebih dahulu oleh guru.

Sintak Model Discovery Learning

1. Stimulation (Stimulasi/Pemberian Rangsangan)

Pada tahap ini peserta didik dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan pertanyaan, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri.

Guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.

2. Problem Statement (Pernyataan/Identifikasi Masalah)

Setelah dilakukan stimulasi, langkah selanjutya adalah guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah).

Permasalahan yang dipilih selanjutnya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis, yakni pernyataan sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan.

Guru memberikan kesempatan peserta didik untuk mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan yang mereka hadapi.

 

3. Data Collection (Pengumpulan Data)

Ketika eksplorasi sedang berlangsung, guru memberi kesempatan kepada para peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang relevan sebanyak-banyaknya untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis. Tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis.

Dengan demikian peserta didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan narasumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.

Konsekuensi dari tahap ini adalah peserta didik belajar secara aktif untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi.

Secara tidak disengaja peserta didik telah menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki.

4. Data Processing (Pengolahan Data)

Semua informasi hasil bacaan, wawancara, dan observasi selanjutnya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu.

Data processing disebut juga dengan pengkodean/kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi.

Berdasarkan generalisasi tersebut, peserta didik akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban atau penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis.

5. Verification (Pembuktian)

Pada tahap ini, peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing.

Pembuktian bertujuan agar proses belajar berjalan dengan baik dan kreatif. Guru akan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang dijumpai dalam kehidupannya.

6. Generalization (Penarikan Simpulan)

Tahap generalisasi atau tahap penarikan simpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi.

Berdasarkan hasil verifikasi, maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan peserta didik harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan materi atas makna dan kaidah yang luas yang mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman tersebut.

Proses Discovery terjadi bila individu terlibat terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip.

Discovery dilakukan melalui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan, dan inferensi. Proses di atas disebut cognitive process.

Berdasarkan sintak tersebut, langkah-langkah pembelajaran discovery learning yang bisa dirancang oleh guru adalah sebagai berikut :


LANGKAH KERJA

AKTIVITAS GURU

AKTIVITAS PESERTA DIDIK

Pemberian rangsangan (Stimulation)

 

·         Guru memulai kegiatan pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.

 

·         Peserta didik dihadapkan pada sesuatu yang enimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri.

·         Stimulasi pada fase ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu peserta didik dalam mengeksplorasi bahan.

Pernyataan/ Identifikasi masalah (Problem Statement)

 

·         Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah).

 

·         Permasalahan yang dipilih itu selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis, yakni pernyataan sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan.

Pengumpu-lan data (Data Collection)

 

·         Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang relevan sebanyak-banyaknya untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis.

 

·         Tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis.

·         Dengan demikian peserta didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.

Pengolahan data (Data Processing)

 

·         Guru melakukan bimbingan pada saat peserta didik melakukan pengolahan data.

 

·         Pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan.

·         Semua informasi hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu.

Pembuktian

(Verification)

 

·         Verifikasi bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya.

 

·         Peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil pengolahan data.

 

Menarik simpulan/ generalisasi (Generalization)

 

·         Proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi.

 

·         Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi.

 

 

Daftar Pustaka

 

Ajiji, A. 2012. Pembelajaran Berbasis Penemuan (Discovery Learning) : Kelebihan dan Kekurangan Metode Discovery. (Online). (http://essay-lecture.blogspot.com/2012/09/kelebihan-dan-kekurangan-metode.html, diakses tanggal 24 April 2015).

Balım, A., G. 2009. The Effects of Discovery Learning on Students’ Success and Inquiry Learning Skills. Egitim Arastirmalari-Eurasian Journal of Educational Research,  (35): 1-20.

Bicknell-Holmes, T. dan Hoffman, P. S. 2000. Elicit, engage, experience, explore: Discovery learning in library instruction. Reference Services Review, 28(4): 313-322.

Dewey, J. 1997. Democracy and education. New York: Simon and Schuster. (Original work published 1916) Piaget, J. (1954). Construction of reality in the child. New York: Basic Books.

Faiq, M. 2014. Model  Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning). (Online). (http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2014/06/model-pembelajaran-discovery-learning-kurikulum-2013.html, diakses tanggal 24 April 2015).

Gijlers, H., de Jong, T. 2005. The relation between prior knowledge and students’ collaborative discovery learning processes. Journal of Research in Science Teaching, (42): 264-282.

Hammer, D. 1997. Discovery learning and discovery teaching. Cognition and Instruction, 15(4): 485-529.

Ikra. 2014. Model Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning) dalam Implementasi Kurikulum 2013. (Online). (http://ikrapuncak.blogspot.com/2014/09/pembelajaran-berbasis-penemuan.html, diakses tanggal 24 April 2015).

Kemendikbud. 2014. Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013 Tahun Ajaran 2014/2015. Jakarta: BPSDMP dan PMP.

Kipnis, N. 2007. Discovery in science and in science education, Science & Education, (16): 883-920.

Lee, O., Hart, J. E., Cuevas, P. & Enders, C. 2004. Professional development in inquiry based science for elementary teachers of diverse student groups. Journal ofResearch in Science Teaching, 41(10): 1021-1043.

Piaget, J. 1973. To understand is to invent. New York: Grossman.

 

Trigonometri

 TRIGONOMETRI       Trigonometri menurut bahasa Yunani dapat diartikan trigonon sama dengan tiga sudut sedangkan metro sama dengan mengu...